en id

Panduan Wisata

Sasirangan : Kain Tradisional Kalimantan Selatan Dengan Motif Banjar Yang Berbeda 

07 Sep 2017

kembali ke list


Selain baru permata berkilau yang dapat ditemukan di Kota Cempaka dan Martapura, Provinsi Kalimantan Selatan memiliki kekayaan budaya kelompok etnis Banjar yang merupakan masyarakat pribumi. Diwariskan dari generasi ke generasi dan dibuat oleh tangan-tangan terbaik masyarakat Banjar, seni Sasirangan adalah manifestasi dari seni etnik Banjar pada kain.

Sasirangan sendiri berasal dari kata Banjar “sirang” atau “menyirang” yang berarti menjahit bersama yang menggambarkan proses rumit jahitan tangan dan tenun kain tradisional. Metode pembuatan sasirangan mirip dengan batik Jawa yang menerapkan proses pewarnaan penghalang. Bedanya, sasirangan menggunakan kain penghalang seperti tali atau benang bukan lilin dan canting. Seniman menjahit pola dibuat pada kain, kemudian mengikat pola yang diperlukan dengan string untuk menghindari kontaminasi dengan warna lain, kain kemudian dicelupkan ke dalam pewarna.

Secara tradisional, pewarna alami yang digunakan untuk warna; Akar kunyit digunakan untuk membuat warna kuning, buah kara bintang dan pinang untuk membuat warna merah dan coklat, dan lain-lain. Pewarna kimia untuk saat ini lebih banyak digunakan. Proses pewarnaan ini disebut pewarnaan rintang, atau penyumbatan warna. Langkah terakhir adalah melepas jahitan saat desain pola akan tampak jelas. Seseorang tidak dapat menciptakan pola yang pasti karena proses yang manual. Tidak seperti batik Jawa kontemporer, produksi massal sasirangan juga tidak memungkinkan. Produksi dari potongan sederhana bisa memakan waktu sekitar 4 hari, sedangkan potongan kompleks memerlukan beberapa bulan untuk menyelesaikannya.

Diantara motif kain sasirangan yang paling berbeda adalah; Iris Pudak, Kambang Raja, Bayam Raja, Kulit Kurkit, Bintang Bahambur, Sari Gading, Naga Balimbur, Kambang Tampuk Manggis, Kangkung Kaombakan, Kambang Tanjung, dan masih banyak lainnya.

Banyak orang menyarankan agar produksi sasirangan dimulai sekitar abad 12 hingga 14 pada mas ketika Raja Lambung Mangkurat menguasai Kerajaan Dipa di Kalimantan Selatan. Pada awalnya, jenis kain tertentu dikenal sebagai Kain Pamintan atau “Kain yang disesuaikan” karena setiap kain dirancang dan dibuat sesuai permintaan spesifik. Motif dan jenis pakaian tertentu dirancang dengan panduan penata spiritual untuk tujuan upacara spiritual. Selama waktu itu, hanya dukun atau mereka yang memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat, diijinkan membuat Kain Pamintan.

Saat ini, meski mungkin telah kehilangkan beberapa aspek spiritualnya, Sasirangan telah melampaui bentuk tradisionalnya dan telah berhasil mencapai mode modern. Sejak tahun 1980-an banyak baju sasirangan diproduksi untuk pakaian sehari-hari dan formal. Kebangkitan ini menghasilkan lahirnya ratusan industri rumah tangga kecil karena tidak ada peralatan khusus atau berat yang dibutuhkan. Di Banjarmasin, ibu kota Kalimantan selatan, sentra produksi sasirangan dapat ditemukan di Kampung Melayu. Sejak tahun 2010 Desa Sasirangan telah ditunjuk oleh Dinas Pariwisata Kota Banjarmasin sebagai salah satu tujuan wisata utama kota.

Sumber : http://www.indonesia.travel